Melihat Sejarah Islam Kota Reog Di Masjid Agung Ponorogo

Masjid Agung Ponorogo

Share This Post

Masjid Agung Ponorogo
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c3/Masjid_Agung_Ponorogo.jpg

Siapa yang tidak kenal Kota Ponorogo? Kota Reog ini begitu terkenal akan budaya Jawa yang kenal. Nama Reog Ponorogo yang mendunia bahkan pernah diklaim oleh negara tetangga. Kota yang terletak di Jawa Timur juga terkenal sebagai kota santri.

Hal ini terlihat dari banyaknya pondok pesantren yang ada di Ponorogo. Para santri yang menimba ilmu di kota ini bahkan berasal dari berbagai penjuru di Indonesia hingga luar negeri. Salah satu pondok pesantren yang terkenal di Ponorogo adalah Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pondok pesantren Gontor terkenal dengan sistem pendidikan modern. Tak seperti pondok pesantren kebanyakan, para santri di pondok ini tidak diwajibkan mengenakan sarung dan peci. Mereka bahkan mengenakan seragam modern berupa jas dan kemeja, lengkap dengan sepatu pantofel seperti di sekolah modern.

Pelajaran di pondok pesantren ini pun lebih beragam. Tak hanya mempelajari dan mengkaji Al-Qur’an dan kitab, para santri juga diwajibkan menguasai beragam bahasa dunia, seperti Inggris dan Arab. Tak heran jika para santri lulusan pondok pesantren ini menguasai beragam ilmu selain ilmu agama Islam.

Kultur Islami berpadu dengan budaya Jawa sangat terlihat dari kehidupan masyarakat Ponorogo. Raden Mas Adipati Aryo Tjokronegoro, adipati Ponorogo atau yang saat ini disebut bupati mendirikan sebuah masjid di dekat alun-alun Kota Ponorogo.

Sejarah Masjid Agung Ponorogo

Masjid Agung Ponorogo itu sudah ada sejak tahun 1858 silam. Sebelum dibangun menjadi masjid agung, di areal itu terdapat sebuah mushola kecil yang konon dijadikan sebagai tempat persembunyian Ki Glendung, atau Abdur Rahmah, seorang ulama yang diincar Belanda pada masa penjajahan.

Raden Mas Aryo Tjokronegoro merancang Masjid Agung Ponorogo yang terdiri dari dua bangunan utama. Masjid itu memiliki tiang berjumlah 16 buah yang dibuat dari kayu jati. Konon, tiang jati itu dibuat dari satu buah pohon jati raksasa yang dikerjakan oleh tukang dari kerajaan Solo, Jawa Tengah.

Tjokronegoro menerapkan ritual khusus saat membangun masjid ini, di mana seluruh pekerjanya wajib dalam keadaan suci saat mengerjakan bangunan. Cerita setempat menyebutkan bahwa proses pembuatan masjid ini tidak menggunakan alat-alat pertukangan khusus, para pekerja hanya diminta membaca puji-pujian kepada Allah SWT saat bekerja.

Hingga saat ini, bangunan masjid telah mengalami pemugaran sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1975 di masa Bupati Soemadi, pada tahun 1984 di masa Bupati Soebarkan, dan yang terakhir dilakukan pada tahun 1995 di bawah pimpinan Bupati Markum Singodimedjo. Pemugaran terakhir menelan biaya sebesar Rp. 125 juta untuk membangun menara pada areal depan bangunan masjid.

Walau direnovasi sampai tiga kali, konsep bangunan masjid masih mempertahankan arsitektur asli yang terawat dengan baik sampai sekarang. Terdapat ciri khas yang terlihat jelas pada bangunan masjid ini, yaitu Sembilan kubah berwarna hijau.

Sembilan kubah itu dibuat sebagai simbol dari Sembilan wali (Wali Songo) yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Ciri khas lainnya yang terlihat adalah deretan pohon buah Sawo yang ditanam di sepanjang jalan yang dibangun antara bangunan utama masjid dengan menara.

1/5 - (1 vote)

More To Explore

Review

Simak! Alamat Masjid Seribu Kubah Makassar

Masjid 99 Kubah Makassar berlokasi di kawasan Center Point Of Indesia (CPI) Tanjung Bunga Makassar. Masjid ini berdiri megah dan indah di tepi Pantai Losari.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kirim Pesan
1
Butuh Bantuan?
Assalamualaikum, selamat datang di website CV. Karya Kubah. Untuk informasi biaya pembuatan kubah masjid atau konsultasi, hubungi kami via whatsapp.