Sarat Budaya Jawa, Masjid Agung Surakarta Jadi Pusat Kajian Islam Masyarakat Solo

Slide18

Share This Post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on twitter
Share on linkedin

Kota Solo, Jawa Tengah, sangat lekat dengan unsur budaya Jawa. Nuansa Jawa yang kental sangat terasa di setiap sendi kehidupan masyarakat Kota Solo. Kelestarian budaya ini lah yang membuat Kota Solo selalu ramai didatangi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanagara.

Salah satu destinasi tujuan wisata populer di Koto Solo adalah Keraton Surakarta. Keraon ini menjadi saksi sejarah peradaban Jawa dan nusantara. Di kompleks keraton ini, tepatnya di sekitr alun-alun Utara Keraton Surakarta, berdiri sebuah masjid bersejarah bernama Masjid Ageng Keraton, atau yang kini disebut sebagai Masjid Agung Surakarta.

Sejarah Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta (1)
https://purubaya.blogspot.com/2013/08/blog-post_5556.html

Pembangunan masjid bersejarah ini diinisasi oleh raja Solo, Pakubowono III pada sekitar tahun 1749. Masjid Agung Surakarta memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam di daerah Solo. Kala itu, Pakubowono III tak hanya memegang kekuasaan tertinggi di bidang pemerintahan, namun juga menjadi penyiar agama.

Masjid yang dibandung di lahan seluas hampir 1 hektare ini terinspirasi dari Masjid Agung Demak yang juga dibangun di kawasan keraton. Bangunan utama masjid ini berukuran 34,2 meter x 33,5 meter yang mampu menampung sekitar 2.000 jamaah.

Hingga saat ini, Masjid Agung Surakarta telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan oleh Pakubowono IV, yang menambahkan kubah di bagian atas bangunan masjid. Nuansa Jawa pun diaplikasikan pada masjid ini, kubah yang biasanya bergaya Timur Tengah dibuat bergaya jawa menyerupai bentuk paku bumi.

Selang beberapa lama, renovasi dilakukan kembali oleh Pakubowono X. Kala itu, Pakubowono X membangun sebuah menara di areal masjid, dan menambahkan sebuah jam matahari yang digunakan untuk menentukan waktu solat. Perubahan juga dilakukan pada gapura masjid yang awalnya beratap limasan khas Jawa menjadi atap bercorak Timur Tengah.

Renovasi berikutnya dilakukan di zaman Pakubowono XIII dengan membangun kolam yang dirancang mengelilingi bangunan utama masjid. Kolam tersebut ditujukan bagi setiap jamaah yang masuk ke masjid dalam keadaan suci saat menyentuh areal masjid. Namun, saat ini kolam tersebut tak lagi difungsikan.

Renovasi yang terakhir dikerjakan pada zaman Pemerintahan Surakarta. Bangunan masjid ini ditambahkan beberapa fasilitas penunjang seperti perpustakaan, kantor pengelola dan poliklinik.

Dahulu, masjid ini dikelola oleh para abdi dalem keraton. Setiap abdi dalem yang diutur menjadi pengurus masjid diharuskan untuk menuntut ilmu di Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum yang terletak di sekitar masjid, tepatnya di jalan antara masjid dengan Pasar Klewer. Saat ini, satu-satunya pengurus masjid yang berasal dari abdi dalem adalah kepala pengurus yang digelari Tafsir Anom.

Walau bernuansa Jawa yang kental, masjid ini menjadi pusat kajian Islam di kawasan Keraton Surakarta. Hal ini terlihat dari penyelenggaraan berbagai ritual agama seperti tradisi Sekaten dan Maulid Nabi. Tradisi ini lah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, salah satunya karena rangkaian acara Sekaten terdapat tradisi pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat.

Masjid Agung Surakarta memiliki beberapa bagian yang memiliki fungsi berbeda sebagai berikut:

  • Kuncungan: Berfungsi sebagai pintu masuk utama untuk menyambut tamu.
  • Serambi Masjid: Bangunan berbentuk empat persegi panjang ini juga disebut limasan klabang nyender. Di serambi ini terdapat sebuah bedug tua bernama Kiai Wahyu Tengara.
  • Gapura Masjid: Sebagai gerbang utama yang menghubungkan antar kompleks Masjid Agung Surakarta dengan kawasan alun-alun Keraton Surakarta.
  • Menara Masjid: Menara di masjid ini dibuat menjulang setinggi 33 meter. Dahulu, menara ini difungsikah untuk mengumandangkan adzan.
  • Pagogan Lokasi: Digunakan untuk menempatkan gamelan Sekaten. Dahulu, gamelan digunakan sebagai media dakwah oleh para ulama. Gamelan ini hanya dimainkan saat berlangsungnya tradisi Sekaten.

More To Explore

Slide1
Artikel Terbaru

Informasi dan Harga Kubah Masjid Malaysia

Bangunan masjid di Indonesia sering kali mengadaptasi ciri khas bangunan luar negeri, seperti Eropa, Timur Tengah, ataupun India. Ciri khas ini biasanya bisa dilihat pada

Slide2
Artikel Terbaru

Jual Kubah Masjid di Makassar Paling Recomended

Membangun sebuah masjid bukan perkara yang mudah. Hal itu dikarenakan, banyak komponen dalam masjid yang harus Anda perhatikan dengan baik. Salah satunya adalah dari segi

Slide3
Artikel Terbaru

Jual Kubah Masjid di Lombok Murah

Kubah adalah bagian dari bangunan masjid dan menjadi ciri khasnya. Dalam membuat kubah sendiri menggunakan bahan-bahan yang pastinya harus kokoh serta tahan lama. Di antara

Slide4
Artikel Terbaru

Jual Kubah Masjid di Kediri Berkualitas

Apabila sedang dalam proses membangun masjid, maka pastikan sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Selain material bangunan juga perlu memesan kubah masjid yang menjadi titik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kirim Pesan
1
Butuh Bantuan?
Assalamualaiku, selamat datang di website CV. Karya Kubah. Untuk informasi biaya pembuatan kubah masjid atau konsultasi, hubungi kami via whatsapp.